Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Januari 2016

Jadilah Pengemban Misi Langit




Jika kau dikalahkan dari sisi dunia, maka kalahkan lah ia dari sisi akhirat. Maka engkau tidak akan pernah termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi. Seringnya saya mendengarkan kisah-kisah seseorang, sanak saudara, teman-teman, dan bahkan orang lain yang saya tidak kenal, yang menurut saya cukup menginspirasi untuk diteladani. Namun yang hanya mampu menyentuh hati saya hanyalah mereka-mereka yang menjadi inspirator-inspirator pengharum agama, dan saya katakan mereka sebagai pengemban-pengemban misi langit. kenapa tidak? karena niat dan langkah yang mereka pijak tujuannya adalah satu. Lillahi ta'ala!!! 

Seperti seorang akhwat yang akan saya ceritakan dalam blog saya hari ini. Seorang Da'iah, dan juga seorang Alumni di Universitas Negeri Medan yang telah manyelesaikan sarjananya pada tahun 2015 silam dan beliau telah khatam tahfizh Qur'an dalam kurun waktu 28 hari setelah mengikuti program menghafal qur'an di daerah kuningan. Anda terkejut?? Anda ingin tahu apa saja pengalaman yang beliau dapat di sana? Nanti akan saya cantumkan cerita beliau, yang langsung beliau share kan untuk saya dan teman-teman semuanya.


Tapi jangan salah faham dulu. Bukan berarti saya katakan di awal "kita harus kalahkan dari sisi akhirat" maka sisi dunia dilupakan. oooo.. tidak!!! ingatkah janji Allah dalam firmanNya: 

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

kemudian:
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al An'am : 32)

FirmanNya lagi:
Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. (QS. An Nisaa : 77)

dan:
Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al-Qashash : 77)

Jelaslah bahwa sesungguhnya hanya kesia-siaan saja jika seorang manusia hanya memiliki orientasi duniawi semata. Apa yang akan kau bawa pulang untuk kampung akhirat? Namun jika kita hidup di dunia ini untuk mengejar kehidupan akhirat, maka akhirat. dunia dan seluruh isinya akan turut mengikutimu.

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.” ( QS. Asy Syuraa: 20)

inilah petikan cerita pengalaman seorang akhwat (saya tidak ingin menyebutkan namanya, agar tidak menodai amalannya) selama ia menjalankan proses menghafal hingga ia dapat mengkhatamkan hafalannya selama 28 hari. Cerita ini ia bagikan agar kiranya dapat menambah semangat kita untuk lebih bersahabat dengan Al Qur'an.

Bismillah.. Segala puji hanya bagi Allah yang telah mncintakan hati ini kepada Al Qur'an, yang telah menggerakkan hati ini untuk sampai pada jejak yang tak pernah terencana sebelumnya. Benarlah, rencana hamba tak lebih indah dari rencana Rabbnya. Kebaikan itu harus disegerakan. Sebab, di sekeliling kebaikan selalu ada syaithan baik dari kalangan jin dan manusia yang menghembuskan was-was dan keraguan. Maka Bismillah, seba'da wisuda  kuberanikan diri mengikuti tes itu. Tidak berambisi untuk lulus, hanya pasrah. Lebih tepatnya menjajal takdir. Ternyata Allah takdirkan aku lulus. Maka, tapak selanjutnya harus coba dilewati adalah dana. Sharing dengan orangtua, teman, kerabat, belum menemukan titik terang. Hingga akhirnya Allah tunjukkan jalan keluar, maa syaa Allah dana terkumpul lebih dari ekspektasi. Maka benarlah, untuk orang-orang yang punya tujuan, Allah selalu tunjukkan jalan. Namun tentunya menambah amanah bagi diri untuk dipergunakan pada tempatnya, teriring doa agar Allah membalas dengan sebaik-baik balasan atau aku menjadi asbab hidayah bagi mereka. Insyaa Allah.. aaamiin. Hari keberangkatan tiba, teringak pesan bapak sesaat sebelum aku mengambil posisi di ruang tunggu kuala namu. Dengan mata berkaca-kaca ia memberi nasihat, hati-hati di perjalanan, baik-baik belajar, tanggungjawabmu akan bertambah besar, coba pikirkan. Berlinangan air mata kami sebelum akhirnya aku benar-benar menghilang dari pandangan mereka. 

Alhamdulillah pesawat mendarat dengan selamat tepat pukul 10.30 WIB. Namun ternyata, perjalanan masih panjang lagi. Banyak ujian ketika untuk pertama kalinya, sok berani datang kekota orang tanpa teman seorang pun. Tak tahu lagi bagaimana menggambarkan rasa itu ketika itu. Namun, tersimpul bahwa Allah hendak menguji tekad, dan membakar niat. Maka, hanya mohon dikuatkan husnudzhon kepadaNya, dan istighfar atas setiap dosa. Biidznillah, sampai tujuan bertepatan dengan maghrib waktu setempat.

Awal belajar tidaklah mudah bagi diri yang masih compang akhlaknya, camping ilmunya, miskin interaksinya dengan Allah dan kitabNya ini untuk mengikuti proses dengan baik. target 26 hal/hari. aku hanya bisa mendapat 8 hal/hari dengan durasi lebih kurang 13 jam dalam berinteraksi dengan al qur'an. Sedangkan teman-teman yang lain sebagian besar melampaui angka itu. Maka terjadilah konflik batin yang demikian hebat. Tidak kepada orang lain, tapi lebih kepada diri sendiri. Mengapa tidak bisa seperti yang lain? Apa yang salah? Apa kuncinya? Bagaimana caranya? dan sederet pertanyaan lain memenuhi kepala. 

Tidak ada materi khusus disana, kecuali materi tahsin dasar dan metode hafalan di awal pertemuan. Setelahnya, kita memang dipaksa untuk berjibaku dengan diri sendiri dan al qur'an kita. Seperti mencerna keadaan diri sendiri. Jadilah ia bertambah frustasi sebab tak ada tempat berbagi masalah. Namun tersadar bahwa disitu letak pembelajarannya. Ya Allah, kirimkan itu agar aku mulai belajar. Mulai berbenah. Jadilah aku penanya dan pendengar budiman dari sahabat-sahabat yang aku nilai baik hafalannya. Maa syaa Allah, dapat ilmu bermanfaat dari mereka-mereka yang luar biasa. Kuncinya ada pada niat yang semata lillah, kepasrahan, dan ketundukan kepada Allah (sebab Allah yang punya kuasa akan memberikan kita rizqi berapa halaman pun yang mau ia berikan), ikhtiar sampai batas kemampuan (hasil biar Allah saja yang tentukan), senantiasa tazkiatun nafs da jaga hati (ini yang paling berat)

Kalau ditanya metode, setiap kita pasti pernah membaca dan mempraktekkan, ada banyak dan setiap kita bisa saja menggunakan metode berbeda. Silahkan saja. Tapi, perlu digaris bawahi , bukan karena metodenya, tapi semata karena Allah pertolongan Allah. Secanggih apapun metodenya, kalau Allah tak izinkan kita menghafalnya, maka tak kan mampu kita menghafalnya. Bergantung hanya kepadaNya.

Minggu ke dua, Alhamdulillah Allah berikan rizqiNya lebih dari sebelumnya hingga akhirnya di minggu-minggu terakhir Allah mampukan menghafal lebih dari 30 hal/hari. Maa syaa Allah, dahsyatnya pertolongan Allah. Hamdalah, terbuka satu ketetapan yang memang sudah tertulis di lauh mahfuzh. ........ ........ khatam di hari ke 28. Mungkin seperti itu kira-kira tulisannya disana. Sujud syukur dibarendi istighfar atas kecompangan selama proses menghafal.

Alhamdulillah, Maha Baik Allah.. selesai sudah program. Balik ke kampung halaman, dengan beban yang lebih banyak lagi. Mulai dari murojaahnya, menyetorkannya, mentadabburinya, dan banyak lagi ternyata hak-hak kitabullah yang belum kita penuhi. Smoga Allah kuatkan kita.

dan inilah pesan yang beliau berikan, semoga bermanfaat:
Tidaklah suatu kewajiban menghafal 30 juz. Tapi fardhu 'ain hukumnya memiliki hafalan dari sebagian al qur'an. Karena orang yang tidak meiliki hafalan qur'an sedikitpun dalam dirinya, maka ia seperti rumah kumuh yang hampir roboh. Begitu kurang lebih wasiat dari sebuah hadits. Kewajiban utama adalah belajar dan mengajarkan al qur'an. Agar kita menjadi sebaik-baik manusia. Semoga kita orang-orang yang dipilih Allah untuk menjadi bagian dari Ahlullah (keluarga Allah) di dunia dan di akhirat. Salam cinta dariku yang banyak alpa.... Wallahu a'lam bish shawab..

itulah kutipan pengalaman seorang akhwat yang dapat saya share kan kepada pembaca sekalian. Semoga Anda dapat terinspirasi sebagaimana juga saya yang sangat terinspirasi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk anda.

Minggu, 13 Desember 2015

Peran Muslimah dalam Membangun Peradaban Dunia (1)

Ialah Sayyidah Quraisy Ath-Thahirah, Khadijah Binti Khuwailid, perempuan yang mampu menenangkan Rasulullah SWT, suaminya, dengan nasihat, "Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali silaturahim, membantu orang yang sengsara, mengusahakan keperluan orang lain, memuliakan tamu, dan menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran". 

Sejak saat itulah sejarah dakwah pertama kali dimulai dan hayatilah bahwa ia ditulis dengan adanya peran perempuan. Wanita-wanita pada zaman Nabi termasuk istrinya sangat berperan dalam membantu perjuangan dakwah Rasul yaitu menegakkan agama Islam. Maka selaku muslimah yang sangat merindukan kejayaan Islam harusnya meneladani mereka dengan memiliki semangat juang yang tinggi dalam mengemban amanat dan tanggungjawab. 

Baiklah untuk kutipan mutiara hari ini akan saya ambil dari buku "Menyongsong Mihwar Daulah" pada Bab: Peran Akhwat Muslimah dalam Dakwah. Dalam pembahasan kali ini, saya akan mengulas peran-peran akhwat muslimah pada zaman Keemasan Islam dan dalam Gerakan Dakwah Modern sekarang ini. 

Jika kita melihat di zaman kenabian, peran akhwat muslimah telah ditemukan sejak periode pertama di Mekkah, saat berada dalam fase siriyah total, yaitu dakwah secara tersembunyi. Munir Muhammad Al-Ghadban yang saya kutip dari buku "Menyongsong Mihwar Daulah " menjelaskan peranan akhwat muslimah pada periode siriyah sebagai berikut:
seperempat dari masyarakat Islam periode siriyah terdiri dari kaum perempuan. Sebagian besar dari para pemuda yang sudah berkeluarga, istri-istri mereka juga masuk Islam. Kaum perempuan hidup di periode siriyah tanpa diketahui keislamannya oleh masyarakat di luar Islam. kita harus memberikan perhatian kepada peranan kaum perempuan dalam perjalanan dakwah sebagaimana mestinya, baik sebagai saudara, istri atau ibu yang mendampingi kaum lelaki. 

Tampak adanya sentuhan khusus yang Allah berikan kepada para akhwat Muslimah dalam pelaksanaan dakwah dalam konteks kebersamaan dengan kaum muslimin. Keterlibatan para akhwat muslimah ada dalam seluruh mihwar dakwah, bukan hanya dalam satu mihwar tertentu. Jika kita perhatikan dari nash-nash Al Qur'an dan As Sunnah, tampaklah sebuah keteraturan sebuah sunnah keseimbangan yang Allah tampakkan lewat penciptaan laki-laki dan perempuan. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dari asal yang satu, sebagaima Allah berfirman:
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istri-istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak..." (An Nisa: 1)

dan tanggungjawab kemanusiaan mereka sama di hadapan Allah, tak ada pembedaan lantaran potensi keperempuanan dan kelelakian. 
"Adapun orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain" (At Taubah: 72)

mereka saling tolong menolong, saling melengkapi, sehingga terjaga keseimbangan peran di muka bumi ini. Balasan bagi mereka juga sama:
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman maka mereka itu masuk surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit" (An Nisa: 124)

dihadapan Allah Ta'ala, perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama, pembedaannya hanya terletak pada kualitas takwa masing-masing. Maka tak layak bagi setiap individu untuk memiliki persepsi negatif terhadap pihak lainnya.
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian yang mereka usahakan dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka usahakan" (An Nisa: 32).

Demikianlah pemahaman dasar tentang realitas laki-laki dan perempuan. Mereka memiliki nilai kemanusiaan dan tanggungjawab yang sama, sekalipun ada beberapa perbedaan dalam beban tasyri'.

Seperti janji saya sebelumnya, saya akan mengulas tentang peran akhwat muslimah d zaman Keemasan Islam dan dalam Gerakan Dakwah Modern sekang ini, denga tetap mengutip mutiara-mutiara tersebut dari buku keren versi hari ini menurut saya, hehe "Menyongsong Mihwar Daulah".

Peran Akhwat Muslimah di Zaman Keemasan Islam
Sampai hari ini rujukan yang paling sangat kuat untuk memahami peranan akhwat muslimah dalam dakwah adalah pada zaman kenabian. Para akhwat muslimah yakni para shahabiyah Nabi memiliki peran yang sangat besar dalam berbagai aktivitas publik, termasuk dinamika dakwah dan jihad. Mereka tidak hanya berada dalam rumah untuk melakukan aktivitas domestik, namun terlibat pula dalam ranah publik. Bukan hanya peran dibelakang layar, namun dijumpai juga peran di depan layar. hmmmm... sangat menginspirasi, inilah yang telah mereka lakukan di zaman keemasan Islam:
1. Mengadu kepada Nabi SAW
    Dialah Habibah binti Sahl, istri Tsabit bin Qais, dari beliau lah kita menjadi tahu seberapa jauh keterlibatan dan hak-hak sosial perempuan. Jadi ceritanya, pada saat itu perempuan lebih banyak berdiam diri di rumah, kendatipun mereka punya keterlibatan sosial dan politik. Maka, orang tualah yang aktif mencarikan jodoh bagi anak perempuan mereka. Habibah hanyalah salah satu contoh saja dari peristiwa tersebut. Bisa jadi bahwa peristiwa sebagaimana yang dialami oleh Habibah binti Sahl hanyalah satu contoh saja yang terungkap dalam lembaran sunnah.
    Kisahnya bermula dari proses pernikahan Habibah yang dijodohkan oleh orangtuanya. Permasalahannya adalah, apakah ketika mengalami peristiwa "ketidaknyamanan" seperti Habibah, seluruh perempuan muslimah shahabiyah pada waktu itu berani menyampaikan aduan kepada Rasulullah? Atau, ketika ketidakcocokan dengan suami pilihan ayahnya terjadi, apakah semua muslimah cenderung memilih sikap untuk berpisah dengan suami, ataukah lebih bersikap diam "mengalah" dengan memaksakan diri berada dalam situasi seperti itu pada awalnya, untuk kemudian berharap akan bisa muncul sikap penerimaan yang baik terhadap realitas suaminya?
    Sebenarnya, Habibah belum pernah sama sekali melihat suaminya sampai saat malam pertama datang, karena Ia  dan sebagaimana perempuan di zamannya, sedemikian percaya kepada orang tua, sampai dalam masalah perjodohan. Dan pada malam itu, tak terpikir olehnya bahwa orang tuanya akan tega memilihkan suami seperti Stabit.
   Ia mengungkapkan kekecewaannya secara langsung kepada Rasulullah SAW. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa istri Tsabit bin Qais telah datang kepada Rasulullah dan berkata: " Ya Rasulullah, aku tidak mencela akhlak maupun agama suamiku. Tetapi aku tidak menyukai kekufuran dalam Islam". Rasulullah bertanya "maukah engkau serahkan kembali kebun pemberian suamimu?" Ia menjawab "Ya". Maka Rasulullah bersabda, "Terimalah kebun itu (hai Stabit) dan jatuhkan talak satu kepadanya." (HR. Bukhari dan Nasa'i) Ini adalah kisah kejadian khuluk pertama kali dalam sepanjang perjalanan sejarah Islam. 
   Kisah khulu' di atas, hingga Habibah dikabulkan permohonan cerainya, bukan karena perangai Stabit yang buruk, bukan karena kekerasan dalam rumah tangga. Tak ada indikasi perbuatan zalim Tsabit dalam kisah di atas. Yang ada adalah ketidakcocokan Habibah terhadap bentuk fisik Tsabit yang digambarkan sebagai "sangat hitam kulitnya, sangat pendek tubuhnya, dan sangat  buruk wajahnya". Kekhawatiran Habibah adalah perasaan tidak bisa menerima tersebut berkembang menjadi pembangkangan terhadap suami, sehingga bernilai kekufuran. 
  Seandainya pernikahan dengan model Habibah tersebut bertentangan dengan syariat Islam, tentulah Nabi telah melarangnya. Jadi, model pernikahan seperti itu pun, dimana pihak perempuan sama sekali belum bertemu dan melihat dengan pihak laki sebelum akad, bisa diterima syariat, kendati Islam telah memberikan anjuran untuk bertemunya laki-laki dan perempuan sebelum pernikahan terjadi. Jadi ukhti, sebelum akad harus ta'aruf dulu yaa, sesuai dengan syariat Islam :)
   Jadi dari segi politik, Habibah telah memberi contoh salah satu perilaku musyarakah siyasiyyah, yaitu mengadu kepada kepala negara atas perasaan ketidaknyamanan yang dialaminya. Ia bukan sedang mengkhianati suami atau ayahnya, justru yang ia lakukan adalah sebuah cara "belajar mandiri" menemukan jati dirinya sebagai perempuan merdeka.
2. Menimba Ilmu dari Nabi SAW
    Para akhwat shahabiyah Nabi terbiasa menghadiri majelis ilmu Nabi bersama kaum laki-laki. Mereka juga terbiasa bertanya tentang berbagai urusan, bahkan sampai hal yang sangat khusus bagi perempuan. Bayangkan ukhti, pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya khusus bagi perempuan tidak membuat mereka merasa terhalang oleh rasa malu untuk menyampaikannya kepada Rasulullah yang notabane nya seorang laki-laki. Itu karena mereka bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu.
   Bahkan para akhwat shahabiyah minta diprioritaskan oleh Nabi atas kaum laki-laki. Mereka minta agar Rasul menyediakan hari khusus untuk para shahabiyah. "Ya Rasulullah, kaum laki-laki telah mempelajari berbagai ilmu darimu. sudikah engkau menyisihkan waktu satu hari untuk kami? Di hari itu kami akan datang kepadamu agar engaku mengajari kami tentang apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.'
   Beliau menjawab ' Tentukanlah hari dan tempatnya. Aku akan memenuhi permintaan kalian." Setelah itu, para shahabiyah berkumpul pada hari yang ditentukan. beliau datang dan mengajari mereka tentang apa yang telah diajarkan Allah kepadanya (HR Bukhari)
    Dari kisah di atas tampaklah bahwa para shahabiyah terbiasa menimba ilmu secara rutin kepada Nabi, baik secara bersama dengan kaum laki-laki maupun dengan hanya perempuan
    Ada pula kegiatan menuntut ilmu yang dilakukan secara perseorangan. Misalnya Asma' binti Syakl. Asma' pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai tata cara mandi seusai haidh dan mandi janabat. Hingga Aisyah berkata, " Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak terhalang oleh rasa malu ketika mendalami masalah agama (HR. Muslim).

Bersambung......! :D

Selasa, 10 November 2015

Aku bangga menjadi Muslimah! (1)


Pada tahun 1500 M, Eropa menyaksikan kebiadaban yang sangat tidak berperikemanusiaan terhadap perempuan. Sebanyak sembilan juta perempuan dibakar hidup-hidup oleh sebuah Dewan Khusus, yang sebelumnya mengadakan pertemuan di Roma, Italia, dengan sebuah kesimpulan bahwa "kaum perempuan tidak mempunyai jiwa". Kemudian di Yunani, Lembaga Filsafat dan Ilmu Pengetahuan memandang perempuan secara tirani dan tidak memberinya kedudukan berarti di masyarakat. Mereka menganggap bahwa wanita sangat rendah. 

Sampai beberapa abad kemudian perempuan tetap menjadi objek penderitaan dan di anggap sebagai sumber besar dari kekacauan dan perpecahan dunia. Bangsa Yunani dan Romawi berkeyakinan bahwa perempuan itu pikirannya lemah dan pendapatnya emosional. Karena itu mereka meremehkan dan bahkan tidak menerima pendapat perempuan.

Itulah sepenggal kalimat yang saya ambil dari pembuka buku "Keakhwatan 1", sangat mengiris hati dan seakan alam bawah sadarku mengantarkanku ke zaman kepedihan itu, merasakan penderitaan yang tiada habisnya seakan menganggap semua ini tidak adil. eitss... jangan sedih yah akhwat-akhwat, tenang.. karena kita sudah di angkat kemuliaannya oleh Sang Rahiim di bawah panji agama yang mulia "Islam". 

Untuk malam ini, kutipan mutiara yang akan saya tuliskan di blog ini ialah dari sebuah buku yang sudah saya sebutkan di atas, yaitu Keakhwatan 1. hehe lagi-lagi saya akan mengutip mutiara-mutiara itu dari buku-buku yang keren. Selagi hobby saya belum berubah yaitu membaca, dan kini hobby menulis yang sempat saya hentikan selama 4 tahun, kini mulai saya tekuni. Cuma enggak sampai profesional banget lah, hanya suka prosesnya saja. ah,, sudah deh.. gagal fokus. ayok kita balik ke pembahasan. 

Begitunya banyaknya penderitaan dan penyiksaan yang pernah di alami oleh perempuan-perempuan terdahulu, Islam lah yang kemudian datang untuk mengubah berbagai persepsi dan perlakuan yang sangat tidak adil terhadap kaum perempuan. Islam datang untuk melakukan pemberdayaan terhadap potensi kebaikan manusia, laki-laki maupun perempuan, agar mereka menjadi hamba yang menaati Tuhannya. Kejahiliyahan telah dihapuskan dengan cahaya Islam, lewat sentuhan tarbiyah islamiyah yang dilaksanakan oleh Nabi kepada umatnya. Di sisi Nabi, Kaum perempuan amat dimuliakan. 

Mereka mendapatkan tarbiyah dari Nabi SAW, dengan diarahkan menuju kepada posisi dan peran yang adil antara laki-laki dan perempuan, Namun, kita harus memahami maksud kata adil disini seperti apa. Bukan berarti ketika laki-laki boleh seharian bekerja di luar untuk mencari nafkah, maka perempuan pun juga harus sama seperti itu. ooo tidak!! Sebelumnya kita harus fahami dulu makna dari kata adil itu seperti apa. Adil asal kata nya dari bahasa arab yaitu ‘adala, alih bahasa nya adalah lurus. Secara istilah berarti menempatkan sesuatu pada tempat/aturan nya, lawan katanya adalah zalim/aniyaya (meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya). Perempuan itu apalagi seorang istri banyak looh tugasnya, melayani suami, mengurusi rumah tangga, mendidik anak-anak, bahkan mengurusi dirinya sendiri adalah juga merupakan kewajibannya, seperti menjaga kecantikan, menjaga kesehatan tubuh, menjaga kebersihan, selalu memenuhi kewajiban akalnya (selalu menambah wawasan dan menghasilkan karya), dan memenuhi kewajiban ruhiyahnya. Jadi perempuan tidak boleh bekerja? boleh-boleh saja, asalkan kewajiban utamanya sebagai seorang perempuan tidak terbengkalai. Ingat! mencari nafkah adalah kewajiban laki-laki/suami. 

Tarbiyah telah mencerahkan kaum perempuan, sehingga mereka mendapatkan kesetaraan dalam harkat kemanusiaan dan potensi kebaikan. Kegiatan tarbiyah merupakan sebuah proses yang bermaksud menghantarkan pelakunya menuju kepada "kesempurnaan" dalam batas kemanusiaan, yaitu usaha-usaha perbaikan diri dan umat untuk mencapai kondisi yang lebih baik. Karena di tarbiyah inilah kita terus menambah pemahaman/wawasan terhadap Islam. Para akhwat muslimah adalah bagian dari masyarakat, sebagaimana juga laki-laki, yang harus dipersiapkan segala peran kebaikannya dalam sebuah proses tarbiyah.

Di bawah ini ada beberapa urgensi, mengapa kegiatan tarbiyah bagi akhwat Muslimah di era sekarang ini diperlukan:

Penanaman dan Penjagaan Iman Menghajatkan Kerja yang Serius
Berbagai tawaran kegiatan yang berorientasi kepada pemenuhan nafsu syahwat telah dengan terang-terangan dipromosikan lewat media massa, baik cetak maupun elektronik. Orientasi hidup serbamateri yang ditonjolkan lewat media iklan, pada akhirnya telah menggiring manusia kepada sifat keinginan pemenuhan kebutuhan secara instan, tanpa mempertimbangkan moralitas.

Penanaman nilai-nilai keimanan yang dilakukan dengan cara-cara yang konvensional selama ini bisa terkalahkan pengaruhnya oleh derasnya arus informasi yang secara konsisten menyapa mereka. Banyak kita jumpai pengajian yang lebih sarat unsur seremonial dan formalitas, bahkan kadang lebih banyak nuansa hiburannya dibandingkan dengan esensi pembinaan yang bertahap dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut bukan berarti salah atau tidak bermanfaat, sebab hal itu adalah sentuhan awal untuk bisa berinteraksi dengan Islam. Kegiatan untuk sentuhan awal dengan Islam yang penuh nuansa hiburan tersebut bisa tetap dilangsungkan, akan tetapi segera ditindaklanjuti dengan penawaran kegiatan tarbiyah, yang akan membawa masyarakat menuju kepada penanaman dan penjagaan nilai keimanan secara terprogram.

Dengan sentuhan tarbiyah itulah, sentuhan pembinaan keislaman akan bersifat sangat personal, ada perhatian, ada pengarahan, ada optimalisasi potensi diri, ada evaluasi atau proses dan hasil.

Amal Islami Menuntut Kerjasama antarpersonal Daiyah
Kaum muslimin dan muslimat dituntut oleh Allah menunaikan sejumlah amal, baik yang bersifat individual maupun kolektif. Perhatikanlah shalat yang menjadi tiang agama, kewajibannya melekatkan secara individual kepada setiap muslim akan tetapi dituntunkan untuk berjamaah karena akan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda.

Jika kewajiban individual saja menjadi lebih kondusif apabila disertai dengan kebersamaan, apalagi kewajiban dalam amal islami yang jelas-jelas dalam bentuk kolektif. Amal islami memerlukan ta'awun atau tolong-menolong dalam aplikasinya. Untuk bisa membentuk kebersamaan yang memungkinkan adanya proses ta'awun dalam kebaikan, diperlukanlah tarbiyah.

Penyiapan Akhwat Muslimah adalah Darurat dan Bagian Tuntutan Zaman
Gencarnya gugatan terhadap kemapamanan pemikiran Islam selama ini, oleh berbagai kalangan yang menghendaki liberalisasi. Nash-nash tentang perempuan yang dibongkarpaksakan oleh ide pembebasan perempuan, telah menjadi salah kaprah dalam aplikasinya. Gerakan yang semula bertujuan memuliakan perempuan, telah lancang menganulir wilayah agama, bukan pada pemahamannya, akan tetapi dari segi posisi dan esensi ajarannya. Di sisi lain, banyak kaum perempuan dijadikan korban eksploitasi kapitalistik, menjadi bahan iklan, promosi, bahkan ikon parawisata dan devisa negara. Pada akhirnya posisi kaum perempuan terpinggirkan menjadi sekedar hiasan dan promosi, bukan menjadi pelaku pembangunan yang memiliki kesadaran aktif dalam kontribusi.

Di sinilah pentingnya para akhwat Muslimah melakukan pembelaan terhadap kemurnian ajaran syariat Islam. Para akhwat harus disiapkan dengan kegiatan tarbiyah yang terprogram, untuk menjadikan mereka pelaku dakwah, pelaku pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan.

Mempersiapkan Generasi Masa Mendatang yang Shaleh Mengharuskan Para Ibu yang Shalehah
Proses pewarisan nilai kepada generasi baru, senantiasa memerlukan kesalehan pelakunya. Artinya, untuk melahirkan sebuah generasi yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang berkualitas pula. Para ibu inilah yang akan sanggup melakukan pewarisan nilai-nilai kebaikan secara generatif kepada anak-anaknya.

Kenakalan bukan lagi melibatkan pemuda atau remaja. Kini, anak-anak telah dilibatkan atau terlibat dalam sejumlah kejahatan. dimanakah peran para pendidik generasi dalam kejadian kejahatan oleh anak-anak atau remaja tersebut? 

Ibu yang mengandung dan melahirkan, adalah pihak yang amat dekat secara emosional dengan anak-anak. Maka peran tarbiyah menjadi sangat berarti dalam masalah ini, untuk mempersiapkan para ibu agar memahami kewajiban dan tanggungjawabnya terhadap masa depan bangsa, lewat pendidikan generasi.

Baiklah, cukup sampai disini dulu yak. InsyaAllah akan ada lanjutan di sesi 2. hehe. Jika ingin membacanya lebih lengkap lagi, ayoo segera beli bukunya yak.. Wallahua'lam.. Semoga Bermanfaat.



Sabtu, 07 November 2015

URGENSI MUSLIMAH BASIC SKILL

Kenapa Muslimah Butuh SKILL? Karena skill itu mempermudah Muslimah memainkan perannya. “Didiklah wanita memintal benang dan menenun serta menjahit pakaian” (Abu A’la Al-Mu’ari). Menanggapi syair itu, Imam Hasan Al-Banna menganggapi bahwa wanita jangan dibebani hal-hal seperti itu. Artinya SKILL utama yang harus dimiliki seorang Muslimah adalah mengatur rumah tangga dan mendidik anak. 


Mengatur Rumah Tangga Tugasnya, antara lain:
  1. Memasak 
  2. Mengelola keuangan 
  3. Keterampilan Sosial  
Pendidikan Anak

Bukan sesuatu yang mudah dan sederhana yang hanya bisa mengandalkan “akan mengalir dan bisa dengan sendirinya” TAPI, butuh kerja keras sejak SEKARANG!, seperti misalnya:
  1. Pendidikan spiritual 
  2. Pendidikan intelektual 
  3. Pendidikan perasaan 
  4. Pendidikan moral 
  5. Pendidikan kesehatan dan kebersihan 
  6. Pendidikan kedisiplinan dan kemandirian
Beberapa manfaat memiliki basic life skills atau pengembangan diri dengan pengembangan diri:
  1. Memiliki standar evaluasi hidup 
  2. Memiliki focus dan keterarahan 
  3. Dapat menerapkan prinsip efisiensi, efektifitas dan optimalisasi 
Dakwah tidak hanya butuh pemahaman, tapi kita juga butuh skill untuk mempermudah dakwah. Keterampilan Khusus itu Unik, membutuhkan Kreativitas dan kecerdasan otak Kanan, maka akan muncul
  1. Inovasi
  2. Keteladanan
  3. Pelebaran Sayap Dakwah
  4. Perluasan kebermanfaatan